Asal Usul Batu Betangkup

Diposting pada

AsalUsul Batu Betangkup

KisahAwal

Dahulu, ada suatu dusun di Indragiri Hilir, Riau, hiduplah seorang janda tua bernama Mak Minah. Ia tinggal bersama ketiga anaknya. Dua anak laki-laki, bernama Utuh dan Ucin. Sedangkan anak yang ketiga adalah perempuan, bernama Diang.

Walaupun sudah tua, Mak Minah masih semangat bekerja keras untuk memenuhi kehidupan ketiga anaknya. Setiap pagi, ia memasak dan mencuci. Setelah pekerjaan rumah selesai, Mak Minah pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan dijual ke pasar. Dari hasil inilah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

Ketiga anaknya yang masih kanak-kanak sangatlah nakal juga pemalas. Mereka hanya bermain, tidak pernah membantu atau merasa iba pada emaknya yang mulai sakit-sakitan. Bahkan tak jarang mereka membantah nasihat emaknya sampai bersedih.

Pada suatu sore, ketiga anaknya asyik bermain didekat rumah mereka. “Utuh, Ucin, Diang… !” teriak Mak Minah. Walaupun sudah mendengar panggilan emaknya, mereka tetap diam saja. “Anak-anakku, Pulanglah! Hari sudah sore,” seru Mak Minah.

Ketiganya masih asyik bermain. Tak lama kemudian, Mak Minah memanggil mereka lagi. “Utuh, Ucin, Diang…! Pulanglah! Hari telah gelap. Emak sedang kurang enak badan. Masaklah makan malam!” kata Mak Minah. Karena lemas Mak Minah merebahkan tubuhnya di pembaringan. Tetapi anaknya masihasyik bermain. Mereka tidak menghiraukan seruan Mak Minah. Setelah menunggu lama, ketiga anaknya tidak berhenti bermain. Akhirnya, Mak Minahlah yang memasak, walau badannya lemas.

Sesudah makanan siap, Mak Minah kembali memanggil anaknya. “Utuh, Ucin, Diang… ! Pulanglah, Nak! Makan malam sudah Emak siapkan.” Setelah mendengar itu baru mereka berhenti bermain. Lalu, mereka langsung ke dapur dengan lahapnya menghabiskan makanan itu tanpa menyisakan untuk emaknya. selesainya makan, mereka kembali bermain tanpa membantu mencuci piring.

Hari semakin malam, sakit Mak Minah pun semakin parah. Badannya lemah dan pegal-pegal karena kelelahan bekerja. “Utuh, Ucin, Diang… ! Tolong pijat Emak, Nak!” minta Mak Minah pada anaknya. Namun, mereka pura-pura tidak mendenga dan terus bermain sampai larut malam.

Mak Minah hanya bisa meratapi nasibnya. “Ya Tuhan, tolong hamba! Sadarkanlah ketiga anakku, supaya peduli pada Emaknya yang tak berdaya ini,” do’a Mak Minah seraya menangis. Akhirnya Mak Minah pun tertidur.

Keesokan paginya Mak Minah bangun pagi sekali untuk memasak nasi dan lauk yang banyak. Setelahnya, Mak Minah pergi ke tepian sungai dekat gubuknya tanpa memberi tahu anaknya. Ia mendekati sebuah batu bernama batu betangkup yang katanya bisa berbicara dan bisa membuka serta menutup seperti kerang.


Tragedi Batu Betangkup

Mak Minah berlutut didepan batu itu dan memohon supaya menelan dirinya. “Wahai Batu Batangkup, telan diriku. aku sudah tidak sanggup hidup bersama ketiga anak ku yang tidak mendengar nasihat,” pinta Mak Minah.

“Apakah kau tidak akan menyesal, Mak Minah?” tanya Batu Batangkup. “Lalu, bagaimana nasib dari anak-anakmu?” lanjut Batu Batangkup.

“Biarkan mereka hidup sendiri tanpa emaknya. Mereka sudah tidak perduli pada emaknya,” jawab Mak Minah.

“Baiklah, kalau itu inginkanmu,” jawab Batu Batangkup.

Dalam sekejap Batu Batangkup menelan Mak Minah dan hanya menyisakan rambut panjangnya tampak di luar.

Ketika hari sudah sore, ketiga anak Mak Minah pulang bermain dan langsung menyantap makanan yang disiapkan Mak Minah. Mereka heran karena emaknya belum pulang. Namun melihat persediaan makanan masih banyak, membuat mereka tidak peduli.

Dua hari kemudian, persediaan makanannya sudah habis. Sedangkan Mak Minah belum pulang ke rumah membuat ketiga anaknya kebingungan. Mereka mencari ke sana ke mari tetap tidak menemukan Mak Minah. “Emak, maafkan kami! Kami menyesal tidak peduli pada Emak…,” sesal ketiga anak itu.

Paginya, ketiga anak itu kembali mencari emaknya mereka menyusuri sungai sampailah mereka di depan Batu Batangkup. Mereka terkejut ketika melihat rambut emaknya terurai di sela-sela Batu Batangkup.

“Wahai, Batu Batangkup! Keluarkan Emak kami dari perutmu. Kami butuh Emak kami,” pinta ketiga anak itu. Tetapi Batu Batangkup diam saja,  ketiga anak itu terus memohon supaya emaknya dilepaskan.

“Tidak! Kalian hanya membutuhkan emak kalian saat lapar. Kalian tidak pernah membantu serta mendengar nasihat emak kalian,” ujar Batu Batangkup.

“Batu Batangkup! Kami berjanji akan membantu emak serta mematuhi nasihatnya,” jawab Utuh sambil menangis. “Iya, Batu Batangkup, kami janji,” tambah Uci dan Diang turut menangis.

“Baiklah, emak kalian akan ku keluarkan karena kalian sudah berjanji. Apabila kalian ingkar janji, emak kalian akan kembali kutelan” ancam Batu Batangkup.

Setelah emak mereka di keluarkan mereka berkata:

“Maafkan Utuh, Emak!” “Uci juga, minta maaf Mak! Uci janji akan mematuhi nasihat Emak,” “Iya, Mak! Diang juga minta maaf. Diang janji akan membantu Emak!”. “Sudah, Anakku! Kalian Emak maafkan,” jawab Mak Minah. Setelah itu, mereka pun pulang.

Semenjak itu, ketiga anak tersebut rajin membantu Mak Mina bekerja. Utuh dan Uci membantu mencari kayu bakar di hutan untuk dijual. Sedangkan Diang, sibuk menyiapkan makanan dirumah. Mak Minah merasa gembira melihat perubahan anak-anaknya.

Tetapi kebahagiaan itu hanya sementara. Perilaku ketiganya pun berubah jadi semakin nakal dan pemalas. Utuh dan Uci tidak lagi membantu mencari kayu bakar. Begitupun Diang, tidak lagi memasak. Mereka semakin berani membantah nasihat emaknya membuta hati Mak Minah sedih.

Baca Juga :  Cerita Rakyat Riau Beserta Sejarahnya

  • Penyesalan

Pada malam hari, Mak Minah memasak nasi dan lauk yang banyak. Karena Mak Minah sudah tidak tahan dengan perilaku anaknya. Saat ketiga anaknya tertidur Mak Minah mencium serta menyelimuti anak-anaknya, lalu ia kembali ke Batu Batangkup.

Dengan perasaan sedih Mak Minah berlutut dan memohon pada Batu Batangkup, “Wahai, Batu Batangkup! Telan kembali aku. Mereka sudah tidak menghormatiku lagi,” pinta Mak Minah. Tak lama, Batu Batangkup pun menelan Mak Minah.

Keesokan paginya, ketiga anak itu bermain seperti biasa tanpa menghiraukan emaknya yang dikira pergi ke hutan mencari kayu. Menjelang sore, Mak Minah belum pulang juga, mereka sadar telah melanggar janji yang sudah sepakati untuk tidak nakal lagi.

Tanpa pikir panjang, ketiga anak itu berlari ke Batu Batangkup. “kami minta maaf, Batu Batangkup! Kami menyesal. Keluarkan emak kami dari perutmu!” pinta ketiga anak itu.

“Kalian anak nakal. Kali ini tidakakan aku mmaafkan ” jawabBatu Batangkup kesal. Kemudian BatuBatangkup menelan ketiga anak itu.Ketika tubuh ketiga anak itu sudah masuk ke perutnya, Batu Batangkup itu punmasuk dalam tanah. Hingga sekarang Batu Batangkup tidak pernah muncul kembali.


Cerita Betangkup Belah

Pada jaman dahulu di tanah Gayo, Aceh – hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Ladang yang mereka punyai pun hanya sepetak kecil saja sehingga hasil ladang mereka tidak mampu untuk menyambung hidup selama semusim, sedangkan ternak mereka pun hanya dua ekor kambing yang kurus dan sakit-sakitan. Oleh karena itu, untuk menyambung hidup keluarganya, petani itu menjala ikan di sungai Krueng Peusangan atau memasang jerat burung di hutan. Apabila ada burung yang berhasil terjerat dalam perangkapnya, ia akan membawa burung itu untuk dijual ke kota.

Suatu ketika, terjadilah musim kemarau yang amat dahsyat. Sungai-sungai banyak yang menjadi kering, sedangkan tanam-tanaman meranggas gersang. Begitu pula tanaman yang ada di ladang petani itu. Akibatnya, ladang itu tidak memberikan hasil sedikit pun. Petani ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung berumur delapan tahun bernama Sulung, sedangkan adiknya Bungsu baru berumur satu tahun. Ibu mereka kadang-kadang membantu mencari nafkah dengan membuat periuk dari tanah liat. Sebagai seorang anak, si Sulung ini bukan main nakalnya. Ia selalu merengek minta uang, padahal ia tahu orang tuanya tidak pernah mempunyai uang lebih. Apabila ia disuruh untuk menjaga adiknya, ia akan sibuk bermain sendiri tanpa peduli apa yang dikerjakan adiknya. Akibatnya, adiknya pernah nyaris tenggelam di sebuah sungai.

Pada suatu hari, si Sulung diminta ayahnya untuk pergi mengembalakan kambing ke padang rumput. Agar kambing itu makan banyak dan terlihat gemuk sehingga orang mau membelinya agak mahal. Besok, ayahnya akan menjualnya ke pasar karena mereka sudah tidak memiliki uang. Akan tetapi, Sulung malas menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang jauh letaknya.

“Untuk apa aku pergi jauh-jauh, lebih baik disini saja sehingga aku bisa tidur di bawah pohon ini,” kata si Sulung. Ia lalu tidur di bawah pohon. Ketika si Sulung bangun, hari telah menjelang sore. Tetapi kambing yang digembalakannya sudah tidak ada. Saat ayahnya menanyakan kambing itu kepadanya, dia mendustai ayahnya. Dia berkata bahwa kambing itu hanyut di sungai. Petani itu memarahi si Sulung dan bersedih, bagaimana dia membeli beras besok. Akhirnya, petani itu memutuskan untuk berangkat ke hutan menengok perangkap.

Di dalam hutan, bukan main senangnya petani itu karena melihat seekor anak babi hutan terjerat dalam jebakannya. “Untung ada anak babi hutan ini. Kalau aku jual bias untuk membeli beras dan bisa untuk makan selama sepekan,” ujar petani itu dengan gembira sambl melepas jerat yang mengikat kaki anak babi hutan itu. Anak babi itu menjerit-jerit, namun petani itu segera mendekapnya untuk dibawa pulang.

Tiba-tiba, semak belukar di depan petani itu terkuak. Dua bayangan hitam muncul menyerbu petani itu dengan langkah berat dan dengusan penuh kemarahan. Belum sempat berbuat sesuatu, petani itu telah terkapar di tanah dengan tubuh penuh luka. Ternyata kedua induk babi itu amat marah karena anak mereka ditangkap. Petani itu berusaha bangkit sambil mencabut parangnya. Ia berusaha melawan induk babi yang sedang murka itu.


Legenda Batu Belah Batu Betangkup

Suatu hari ketika musim kemarau, ladang kecil yang dimiliki petani tersebut sangat kering dan tidak membuahkan hasil.

Ayah :Bu, kita sudah tak ada uang. Ladang kering kerontang. Apa yang harus kita lakukan untuk menyambung hidup?

Ibu :Bagaimana kalau kambing yang kita ternak dijual saja Yah?

Ayah :Tapi kan kambing-kambing itu sangat kurus, tidak akan laku mahal di pasar, Bu.

Ibu :Nanti coba minta tolong Sulung untuk menggembala kambing ke padang rumput supaya cepat gemuk ya Yah.

Ayah :Iya Bu.

Ayah segera memanggil Sulung.

Ayah :Sulung, tolong kamu beri makan kambing-kambing kita di padang rumput ya. Persediaan uang sudah menipis, sedangkan ladang kita sedang sangat kering.

Baca Juga :  Annelida

Sulung :Tidak mau!

Ibu :Kenapa, Sulung? Tolonglah bantu Ayah dan Ibu.

Ayah :Iya, nak. Rencananya kambing akan Ayah jual di pasar untuk pemasukan kebutuhan kita.

Tak lama kemudian Sulung mau menggembala dua ekor kambing yang dimikili Ayahnya. Namun tak sampai di padang rumput yang dituju, Sulung memutuskan untuk tidur di bawah sebuah pohon hingga sore. Dan ketika bangun, kambing yang dititipkan Ayahnya sudah raib entah ke mana. Tanpa rasa bersalah, Sulung tak menjelaskan kejadian sebenarnya.

Ayah :Kambing-kambing kita di mana, Sulung? Kok tidak ada?

Sulung :Tadi hanyut di sungai!

Ayah :Apa? Hanyut? Yaampun bagaimana ini? Kenapa bisa hanyut?

Ayah sangat kecewa pada Sulung yang tidak bisa diandalkan, padahal semua hal yang dimintanya adalah demi kepentingan hidup bersama-sama, yaitu demi kebutuhan pangan. Kesedihanpun dirasakan Ibu yang selalu bersedia untuk mencari tambahan penghasilan untuk keluarga. Tanpa pikir panjang, Ayah segera berangkat ke hutan untuk melihat perangkap yang sengaja dipasang untuk menjerat hewan yang ada di sekitar hutan.

Ayah :Wow ternyata aku dapat! Seekor anak babi hutan, pasti akan laku dijual di pasar. Lumayan untuk membeli kebutuhan makanan selama seminggu!

Dengan rasa gembira, Ayah melepas jeratan yang ada pada kaki hewan tersebut dan membawanya pulang. Namun hal tak terduga terjadi sebelum ia keluar dari hutan. Ia diserang dua ekor induk babi yang penuh amarah melihat anak mereka ditangkap. Serangan babi hutan tersebut tak kuasa tertahan sehingga Ayah sulung terkapar tak berdaya namun tetap mencoba melakukan serangan balik pada hewan liar tersebut. Tetapi usahanya tak membuahkan hasil, justru ia dikejar kawanan babi hutan hingga ke sungai. Sungguh naas nasibnya, ia tewas ketika melompati bebatuan karena terjatuh dan kepalanya membentur sebuah batu.

Sementara itu, Ibu sedang memarahi Sulung yang tega membuang beras terakhir yang tersedia di rumah dengan rasa sedih yang tidak terbendung.

Ibu :Sulung! Kamu ini apa-apaan? Selalu bikin susah orang tua! Seenaknya saja kamu buang beras untuk makan ke dalam sumur?!

Lelah memarahi Sulung, Ibupun meminta tolong agar Sulung mengambil periuk tanah liat di belakang untuk dijual ke pasar.

Ibu :Yasudah Sulung, tolong Ibu ambil periuk tanah di belakang. Akan Ibu jual ke pasar, tolong jaga adik karena Ayah belum pulang ke rumah.

Sulung :Untuk apa aku ambil periuk dan menjaga si Bungsu?!!! Aku jadi tidak bisa main! Mending aku pecahkan saja periuk ini!!!!

Tak disangka periuk hasil buatan Ibu dipecahkan begitu saja oleh anak nakal yang satu ini. Sungguh keterlaluan dan membuat hati Ibu hancur berkeping-keping layaknya periuk yang sudah pecah itu.

Ibu :Suluuuung….. Apa kamu tidak tahu, kita butuh makan. Kenapa kamu pecahkan periuk itu? Padahal itu adalah satu-satunya sisa harta yang kita punya. (sambil meneteskan air mata)

Sungguh terlalu, Sulung justru membentak Ibunya dengan nada tinggi yang tak terkira. sikap Sulung itu sangat keterlaluan pada Ibunya. Ia tak sadar bahwa suatu saat nanti penyesalan dan penderitaan pasti akan ia alami jika sang Ibu sudah tiada. Sementara itu, Bungsu yang baru satu tahun hanya bisa menyaksikan kesedihan mendalam pada Ibunya. Jika sudah sebesar Sulung, mungkin adiknya itu akan berinisiatif untuk menolong Ibunya. Tak lama kemudian, salah satu tetangga datang di tengah kekacauan dalam rumah itu.

Tetangga:Bu, saya ingin menyampaikan informasi bahwa suami Ibu ditemukan sudah tak bernyawa di tepi sungai. Saya beserta warga yang lain turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian Almarhum.

Ibu :Innalillahi wainailaihi rajiun… (semakin tersedu mendengar kabar buruk tersebut)

Namun tak nampak raut wajah kesedihan dari wajah Sulung. Ia justru berpikir bahwa tanpa Ayahnya, ia berarti bebas karena tidak ada yang menyuruh-nyuruhnya lagi.

Ibu :Sulung… Ibu tak sanggup lagi hidup di dunia ini. Ibu sangat sedih melihat perilaku kamu. Tolong jaga Bungsu, Ibu mau menyusul Ayahmu…

Ibu Sulung pergi menuju sebuah batu yang disebut Batu Belah tempat suaminya terjatuh dan meninggal. Kemudian iapun bersenandung sambil berjalan menuju batu tersebut…

“Batu belah batu bertangkup. Hatiku alangkah merana. Batu belah batu bertangkup. Bawalah aku serta.”

Angin sesaat bertiup kencang dan membuat Ibu Sulung terperangkap di Batu Belah yang tidak bisa terbuka kembali untuk selamanya. Menyadari Ibunya telah tiada, Sulungpun sangat menyesal.

Sulung :Ibuuuuu!!!! Maafkan aku!!! Ibu kembalilah, Buuu!!!! Aku menyesaaal!!! Ibuuuu!!!!

Sambil merintih dan terus menerus memohon Ibunya kembali, usaha Sulung tetap sia-sia. Batu Belah kini tertutup dan ia tak akan bisa bertemu Ibunya.

Itulah salah satu contoh naskah drama cerita rakyat (eg. Cerita legenda) yang menceritakan tentang akibat perbuatan anak yang durhaka pada kedua orang tuanya. Penyesalan di akhir hanyalah sesuatu yang sia-sia dan tak bisa mengembalikan semua situasi terdahulu yang pernah ia perbuat. Sungguh sebuah legenda yang mengajarkan tentang pentingnya sikap santun pada orang tua yang wajib dilakukan semua anak di dunia.


Naskah Drama Betangkup Belah


Cerita Rakyat Sambas : “BATU BALLAH BATU BETANGKUP”

Jaman gek dolok di sebuah kampong yang bename pemangkat yang bedakatan dengan gue ajaib iye, tinggal Mak Tanjung bersame duak orang anaknye. Melur dan Pekan name anaknye. Mak Tanjung sadeh karne barok keilangan lakinye dan tepakse menjage keduak anaknye dangan keadaan yang sontok.Gek marek, pade waktu dolok ade sebuah gue ajaib di daerah Sambas. Gue iye digelarek batu ballah batu betangkup dan ditakutek same penduduk kampong. Pintu gue iye tebukak dan tetutup bile dipanggel dan siapepun yang masok dalam gue iye daan dapat keluar agek.

Baca Juga :  Batu Menangis Kalimatan Barat

Pade suatu hari, Mak Tanjung kemponan nak makan talok tembakol. Die pun pagi ke sungai untok menangkapnye. Kenagek suke atinye dapat sekok ikan tembakol. “Wah, basar inyan ikan yang mak dapat tok ee !” jinye Pekan kesukean. “Iye, itok ikan tembakol namenye. Umak rase ikan itok ade taloknye. Udah lamak umak kemponan nak makan talok ikan tembakol itok.” Jinye Mak Tanjung

Lakak iye Mak Tanjung nyiangek ikan tembakol iye. Die pun barekkannye ke Melur untok dimasakek gulai. “Masakkek gulai ikan dan goreng talok ikan tembakol iye. Umak nak ke utan carek kayu dolok. Mun umak lamak balik, Melur makan dolokan same_same Pekan. Tapi, usah lupak nyisakan talok ikan tembakol untok umak.” Pasan Mak Tanjung dangan Melur.

Udah lakak masak gulai ikan tembakol, Melor goreng talok ikan tembakol agek. Die pun nyimpankan sikit talok tembakol iye di dalam bakol untok umaknye. Melur dan Pelan nunggu sampai tangah hari tapi umaknye daan balik-balik juak. Pekan dah mulai menangis karne kelaparan. Melur pun nyiapek nasek, talok ikan tembakol dangan gulai ikan tembakol untok dimakan lah Pekan. “Hmm… nyaman lalu talok ikan itok,” Jinye Pekan sambilan menikmatek talok ikan goreng iye.

“Eh Pekan, usah nak makan talok ikan tolen, makanlah juak nasek dangan gulai ee” jinye Melur ngomong dengan Pekan.

“Kakak, talok ikan dah abis, mintaklah Pekan agek. Baloman puas rasenye makan talok ikan tembakol itok.” Jinye Pekan mintak dengan Melur.

“Eh, talok ikan iye daan banyak. Nah, ambeklah bagian kakak yo.” Jinye Melur.

Pekan pun makan talok ikan punyak kakaknye iye tanpe befikir agek. Nyaman inyan rase talok ikan tembakol iye ! lakak abis talok ikan dimakannye, Pekan mintak agek.

“Kak, Pekan nak mintak agek talok ikannye,” jinye Pekan mintak dengan Melur.

“Eh, mane ade agek ! Pekan makan ajak nasek dangan gulai ikan ee. Agekpun, talok ikan yang sisak iye untok umak. Umak kan dah pasan dangan kakak untok nyisakan sikit talok ikan untok umak,” jinye Melur.

Tapi, Pekan tatap makse dan menangis tolen. Melur pun bujok die tapi Pekan tatap menangis. Tibe-tibe, Pekan becacak dan ngambek talok ikan yang disimpan lah Melur untok umaknye.

“Hah, rupenye ade agek talok ikan !” Jinye Pekan kesukean.

“Pekan ! Usah nak makan talok iye ! Kakak nyimpannye untok umak,” jinye Melur.

Tapi, Pekan daan dulikan omongan kakaknye Melur dan makan talok ikan iye sampai abis. Daan lamak, Mak Tanjung pun balik. Melur pun menyiapkan makanan untok umaknye.

“Mane talok ikan  tembakol, Melur ?” tanyak Mak Tanjung

“Hm… Melur ade nyisakkan buat umak, tapi Pekan dah ngabiskannye, Melur dah melarangnye tapi…”

“Jadi, sian sikit pun buat umak agek ?” tanyak Mak Tanjung.

Melur daan jawab karne merase besalah. Die sadeh ngeliat umaknye yang gaye karne daan dapat nak makan talok ikan tembakol.

“Mak, sebanarnye kemponan inyan nak makan talok ikan tembakol iye, tapi…” sadeh rasenye ati Mak Tanjung karne kecewa dangan kelakuan anaknye Pekan ee.

Mak Tanjung meliat Melur dan Pekan dangan panoh kesadehan lalu bejalan nuju ke utan. Atinye betambah pilok mun menganang arwah lakinye dan merase direknye daan disayangek agek. Anak-anaknye daan nyayangek die agek karne dah melukaek atinye Mak Tanjung.

Melur dan Pekan ngajar umaknye dari belakang. Anaknye beteriak sambil menangis bujok umaknye biar balik.

“Mak. Usah tinggalkan Pekan ! Pekan minta maaf mak ! jinye Pekan.

Melur ikut menangis dan beteriak, “Mak kasihanek kamek mak !.

Melur dan Pekan takut kalu-kalu umaknye merajok dan pagi ke gue batu ballah batu betangkup. Melur dan Pekan becacak untok magek Mak Tanjung.

Tapi, Melur dan Pekan dah telambat. Mak Tanjung daan dulikan bujokkan Melur dan Pekan, lakak iye die pun manggel gue batu ballah batu betangkup biar di  bukakkan pintu. Mak Tanjung pun melangkahkan kaki masok ke pintu gue ajaib dan pintunye pun tetutup.

Melur dan Pekan menangis tesadok-sadok didapan gue batu ballah batu betangkup, tapi umaknye daan nampak juak.

Dan kin itok tempat iye disabut Tanjung Batu yang telatak di Kecamatan Pemangkat untok menganang cerite iye dan juak di Sambas dikannal lagu “Batu Ballah”.

demikianlah artikel dari dunia.pendidikan.co.id mengenai Asal Usul Batu Betangkup : Kisah, Tragedi, Cerita, Legenda, Naskah Drama, Gambar, semoga artikel ini bermanfaat, semoga artikel ini  bermanfaat bagi anda semuanya.