Cerita Putri Pandan Berduri

Diposting pada

Sejarah Putri Pandan Berduri

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan ada sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh seorang Pemimpin yang gagah perkasa Batin Lagoi namanya.Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi tersebut, harus lewat sebuah betung yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.

Pada suatu hari, Batin Lagoi melewati pantai. Tengah berjalan santai, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan takut, dia menerobos semak pandan tersebut dengan hati-hati. Tak berapa lama, dia melihat seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun di antara semak pandan itu. Anak siapa ini? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?kata  Batin Lagoi bertanya dalam hati.

Sesudah menengok ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya. Karena dia tidak memiliki anak, timbullah keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, diambilnya bayi itu serta dibawanya pulang. Bayi itu lalu dia beri nama Putri Pandan Berduri. Dia merawat Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih-sayang seperti merawat seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberikan pelajaran budi pekerti yang luhur.

Waktu terus berjalan Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik rupanya. Tutur bahasa serta sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan Putri Pandan Berduri mengundang perhatiaan kagum para pemuda di Pulau Bintan. Tapi, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi mau putrinya menjadi istri seorang anak raja.

Sedangkan di Pulau Galang, ada seorang Raja yang memiliki 2 orang anak laki-laki  Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Raja itu mendidik kedua anaknya supaya saling membantu dan saling menghormati.

Sesudah keduanya dewasa, Raja Mau Julela sebagai batin di Galang. Hal ini lalu membuat Julela menjadi sombong. Dia sudah tidak peduli dengan adiknya, sampai hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka juga menjalani hidup masing-masing secara terpisah.

Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi Dia sering mencaci serta memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berbicara pada adiknya, Hei, Jenang bodoh! Suatu saat aku menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi semua perintahku. Kalau tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini.

Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya tersebut. DIa merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal tersebut menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu, timbullah keinginannya untuk pergi dari Pulau Galang.

Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak bertujuan. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah dua di Pulau Bintan. Di sana, dia tidak mengaku sebagai anak seorang raja. Dia selalu bertutur kata lembut pada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu sudah menarik perhatian Batin Lagoi.

Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan acara makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan juga Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan tersebut. Jenang Perkasa juga pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, dia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, Supaya air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang dia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak dia datang sepasang mata sudah memerhatikan perilakunya, yang tak lain ialah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sangat mengesankan hati Batin Lagoi.

Setelah perjamuan, Batin Lagoi datang menghampiri Jenang Perkasa. Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan serta kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah kamu aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri? kata Batin Lagoi. Dengan kerendahan hati saya bersedia menikah dengan putri tuan, jawab Jenang Perkasa dengan sopan.

Ternyata, Batin Lagoi telah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja. Walaupun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang raja, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui mengenai hal tersebut. Dia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik tersebut.

Seminggu kemudian, Jenang Perkasa langsung dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka diadakan sangat meriah. Berbagai macam minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian pun dipergelarkan menghibur para pengantin serta para undangan. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup dengan bahagia.

Tak berapa lama kemudian Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk meneruskan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang ada di Bintan.

Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana tersebut terdengar oleh masyarakat Galang. Sampai suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. Wahai, Jenang Perkasa! Kami sudah tau tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak kamu kembali ke Galang mengggantikan abang kamu yang sombong itu sebagai Batin, kata salah seorang dari mereka. Tapi, Jenang Perkasa menolaknya. Dia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Batin Sekumpulan orang dari Galang tersebut pun kembali dengan tangan hampa.

Sementara Jenang Perkasa hidup bahagaia dengan Putri Pandan Berduri. Mereka memiliki tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, serta yang bungsu Batin Kelong.

Jenang Perkasa mendidik ke-3 anaknya dengan baik, supaya mereka tidak menjadi orang yang sombong. Dia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ke-3 anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, lalu dinamakan dengan adat Kesukuan.

Sesudah beranjak dewasa, ke-3 anaknya itu memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi bersaa sukunya ke barat, serta Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ke-3 suku itu lalu menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Kalau mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yakni pada adat Kesukuan.

Tidak lama kemudian Jenang Perkasa meninggal dunia, disusulPutri Pandan Berduri. Meskipun keduanya telah tiada, namun anak-cucu merekabanyak sekali, sampai adat Kesukuan terus berlanjut. sampai sekarang, JenangPerkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahirpersukuan di Teluk Bintan. Sampai sekarang Suku Laut atau Suku Sampan ini masihbanyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.


Legenda Putri Pandan Berduri

 Dahulu kala di Kepulauan Riau hiduplah seorang Batin dari sekumpulan suku laut di Pulau Bintan. Batin tersebut bernama Batin Lagoi. Suatu hari Batin Lagoi sedang berjalan-jalan di pantai yang ditumbuhi semak-semak pandan yang lebat. Tengah asik berjalan tiba-tiba Batin Lagoi mendengar suara tangisan dari semak pandan yang lebat itu. Batin Lagoi segera mencari asal suara tersebut, lalu terkejutlah dia ketika melihat seorang bayi perempuan yang tergeletak di tengah semak pandan sambil menangis. Batin Lagoi merasa iba dan segera membawa pulang bayi tersebut. Bayi perempuan yang cantik itu kemudian diberi nama Puteri Pandan Berduri.

Batin Lagoi sangat menyayangi Puteri Pandan Berduri dan merawatnya bak puteri raja. Segala keingan puteri di turuti oleh Batin Lagoi. Banyak inang di sekeliling puteri yang siap melayani semua kebutuhan Puteri Pandan Berduri. Akan tetapi Puteri Pandan Berduri bukanlah orang yang sombong. Justru dia adalah puteri yang halus tutur bahasanya, lembah lembut serta baik budi pekertinya. Batin Lagoi semakin menyayangi sang puteri.

Baca Juga :  Batang Dikotil

Pada suatu hari Puteri Pandan Berduri sedang berjalan-jalan ke tengah kampung dan bertemu dengan seorang nenek yang membawa kayu bakar. Nenek tersebut kelihatan tua renta dan kepayahan membawa kayu bakar yang jumlahnya banyak sekali. Puteri Pandan Berduri lalu mendekati si nenek dan menanyakan kenapa nenek tersebut masih membawa kayu bakar padahal usianya sudah tua.

Nenek tua itu lalu menjawab bahwa dia tinggal sebatang kara sehingga tidak ada yang menolongnya. Lalu Puteri Pandan bertanya kembali kenapa nenek tersebut tidak meminta orang lain untuk membawa kayu bakar itu. Mendengar pertanyaan puteri, nenek tersebut tersenyum dan berkata bahwa dia masih kuat dan tidak mau menggantungkan hidupnya pada siapapun. Dia harus bekerja keras setiap hari walau kebutuhannya sudah cukup. Harta yang melimpah akan habis suatu hari nanti jika kita tidak terus mencari nafkah dan hanya duduk diam saja.

Jawaban nenek itu telah menggerakkan hari Puteri Pandan Berduri tentang sebuah arti hidup dan kerja keras untuk tetap bertahan hidup. Sesampainya di rumah Puteri Pandan meminta ijin pada Batin Lagoi untuk meninggalkan rumah sementara waktu. Puteri Pandan Berduri ingin belajar dari nenek tua yang telah ditemuinya beberapa waktu lalu. Mendengar permintaan puterinya, Batin Lagoi merasa keberatan sebab mengkhawatirkan keselamatan sang puteri. Namun Puteri Pandan Berduri tetap bersikukuh untuk pergi dari rumah dan belajar kepada di si nenek.

Akhirnya Batin Lagoi menyetujui permintaan puterinya. Puteri Pandan Berduri segera pergi dari rumah. Dia hanya membawa beberapa pakaian sederhana sebagai bekal ganti dan tidak ada seorang inang pun yang ikut bersamanya. Si nenek terkejut mendengar permintaan Puteri Pandan Berduri yang ingin tinggal bersamanya. Namun si nenek tidak mencegah dan akhirnya tinggallah Puteri Pandan Berduri di rumah nenek tersebut.

Hari demi hari Puteri Pandan Berduri menolong pekerjaan si nenek, mulai dari mencari kayu di hutan untuk kemudian dijual di pasar, menanak nasi, membersihkan rumah dan halaman, mencuci baju sendiri dan lain sebagainya. Puteri Pandan Berduri merasa senang dengan pekerjaannya walaupun dia terlihat sangat lelah.

Setelah beberapa lama tinggal di rumah si nenek, Puteri Pandan Berduri pulang kembali ke rumahnya dengan bekal ilmu yang di dapat selama tinggal bersama si nenek. Puteri Pandan Berduri menjadi seorang puteri yang bijaksana, semakin baik budi pekertinya dan membantu ayahnya mencari nafkah. Selama ini Puteri Pandan Berduri tidak mengerti cara mencari nafkah namun kini dia faham bahwa harus bekerja keras walaupun sudah hidup berkecukupan.

Kelembutan Puteri Pandan Berduri ternyata telah memikat hati seorang pemuda bernama Jenang Perkasa. Pemuda yang memiliki budi pekerti yang baik itu kemudian mendatangi Batin Lagoi dan bermaksud untuk meminang Puteri Pandan Berduri untuk menjadi istrinya. Akhirnya merekapun menikah dan hidup bahagia. Pasangan suami istri ini menggantikan Batin Lagoi yang sudah mangkat dan melahirkan keturunan yang menjadi cikal bakal penduduk Pulau Bintan. Cerita Rakyat Melayu ini menceritakan tentang Batin Lagoi yang menemukannya Puteri Pandan Berduri dan keinginan putri untuk belajar kepada seorang nenek sederhana.


Naskah Drama Puti Pandan Berduri

Alkisah, di pulau bintan ceritanya ada kepala suku yang tidak memiliki anak. Suatu hari saat ia berjalan berkeliling kampung, ia menemukan bayi yang diberi nama putri pandan berduri karena ditemukan di antara semak pandan.

Batin Lagoi: Selamat siang bapak-bapak…

Ryosan, Kwidoi & Danoi: Siang batin…

Ryosan: Batin hendak kemana hari sudah mulai sore ini?

Kwidoi: Berjalan-jalan saja Batin?

Batin Lagoi: Iya, santai menghirup udara sore yang sejuk. Bagaimana tangkapan hari ini, banyak?

Danoi: Lumayan Batin, lebih banyak dari hari biasanya..

Batin Lagoi: Bagus kalau begitu, yang rajin ya…

Ryosan: Iya terima kasih Batin.. Ya sudah kami permisi dulu Batin

Kwidoi & Danoi: Iya batin, keluarga di rumah sudah menunggu

Batin Lagoi: Ya sudah…


Batin Lagoi pun melanjutkan perjalanan ke arah pantai. Seperti biasa ia banyak menghabiskan waktu luang untuk berkeliling melihat masyarakat yang ia pimpin. Dengan begitu ia selalu tahu mengenai apapun yang terjadi di masyarakat. Saat menyusuri pantai, tiba-tiba ia mendengar sesuatu. Sayup – sayup ia mendengar tangisan bayi.

Batin Lagoi: Anak siapa itu yang menangis di tempat seperti ini?

Ia melihat kiri kanan, namun tak dilihatnya satu orang pun. Kemudian ia berniat beranjak pergi namun ia mendengar lagi suara bayi tersebut. Akhirnya ia mengikuti suara bayi tersebut dan akhirnya

Batin Lagoi: Apa….! Bayi siapa yang ditinggalkan di atas dedaunan seperti ini!

Batin Lagoi terdiam sejenak memikirkan sesuatu dan akhirnya setelah memastikan tidak ada siapapun yang mungkin memiliki bayi tersebut, ia memutuskan untuk membawa pulang bayi yang ditemukan. Sesampainya di rumah…

Pyalan: Aduh tuan, bayi siapakah ini yang engkau bawa pulang?

Batin Lagoi: Aku tidak tahu Pyalan, aku menemukannya diantara daun pandan di tepi pantai.

Pyalan: Apakah tidak ada orang di sana Batin, mungkin ada yang kehilangan?

Batin Lagoi: Tidak Pyalan, tidak ada seorang pun di sepanjang pantai itu… biarlah, akan ku rawat anak ini.

Pyalan: Iya tuan, kasihan, malang benar nasib bayi ini!

Setelah dewasa putri pandan berduri hendak dinikahkan dengan putra raja atau putra kepala suku. Batin lagoi menganggap hal itu sepadan mengingat putri pandan berduri memiliki perangai yang sangat baik.

Pyalan: Hendak kemana Putri, sepertinya tergesa-gesa benar?

Putri Pandan Berduri: Benar Pyalan, aku hendak ke taman, jika ayah mencari ku tolong sampaikan bahwa aku sedang bermain di taman.

Pyalan: Baik Putri… (putri pandan berduri pun pergi ke taman)

Batin Lagoi: Duhai Pyalan, di manakah putri cantik ku berada? Sedari tadi aku tidak melihatnya?

Pyalan: Putri Pandan Berduri sedang bermain di taman tuan

Batin Lagoi: Apa pendapatmu tentang putri ku itu Pyalan?


Pyalan: Pendapat yang bagaimana tuan?

Batin Lagoi: Ya, ia sekarang sudah dewasa, kadang aku takut dan resah.

Pyalan: Ow… Tuan tidak perlu bersusah hati. Putri Pandan Berduri adalah seorang wanita yang cantik dan berbudi pekerti luhur, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tuan

Batin Lagoi: Mungkinkah suatu saat ia meninggalkanku?

Pyalan: Kalau ia kelak menikah dengan orang jauh, mungkin saja tuan.

Batin Lagoi: Hem….

Pyalan: Tapi bukankah yang terpenting kebahagiaan dia tuan?

Batin Lagoi: Kamu benar Pyalan, yang penting ia bahagia.

Sementara itu di seberang laut hiduplah dua orang pangeran yang sangat rukun. Selain tampan mereka juga memiliki watak yang baik. Namun semua berubah ketika sang raja mengumumkan bahwa putra tertua akan ditunjuk menggantikan sang ayah menjadi raja.

Raja Pulau Galang: Putra-putra ku, kini kalian berdua telah dewasa, tibalah saatnya aku mengatakan hal yang sangat penting bagi kita semua.

Baca Juga :  Asal Usul Pulau Kemaro

Pangeran Julela: Ada apakah gerangan baginda?

Pangeran Jenang Perkasa: Iya baginda, apakah ada hal yang harus kami lakukan?

Raja Pulau Galang: Tidak anakku, ini bukan hal yang harus kalian lakukan tetapi hal yang nantinya harus kalian lakukan.

Pangeran Jenang Perkasa: Katakan saja Baginda, kami pasti menuruti semua titah baginda.

Pangeran Julela: Benar baginda

Raja Pulau Galang: Baiklah, dengarkanlah baik-baik anakku. Aku memerintah kerajaan ini tidak akan lama lagi, dan suatu saat nanti aku harus menunjuk raja baru.

Pangeran Julela & Pangeran Jenang Perkasa: Iya baginda

Raja Pulau Galang: Untuk itulah, sebagai anak pertama dan anak tertua hari ini aku umumkan pada kalian bahwa anakku Pangeran Julela kelak akan menjadi penerus menggantikan ku. Dan engkau Pangeran Jenang Perkasa anakku, kau tidak perlu iri dan cemburu kepada kakakmu. Aku sudah menyiapkan amanat khusus untukmu yaitu membantu kakakmu kelak dalam menjalankan kerajaan ini.

Pangeran Jenang Perkasa: Baiklah Baginda, aku siap menerima titah mu.

Pangeran Julela: Iya baginda, aku akan berusaha memberikan yang terbaik

Mereka pun akhirnya pergi. Kemudian, setelah pengumuman yang diberikan sang raja terjadi perubahan yang sangat drastis. Pangeran Julela yang tadinya memiliki perangai yang baik berubah menjadi sombong karena mengetahui kelak ia yang akan meneruskan tahta. Kesombongan tersebut terlihat jelas pada perlakuan nya kepada sang adik yaitu Pangeran Jenang Perkasa.

Pangeran Julela: Jenang Perkasa, aku sangat ingin berburu rusa, bagaimana kalau engkau menemani ku?

Pangeran Jenang Perkasa: Baiklah kanda, aku akan menemanimu

Pangeran Julela: Bagus!

Pangeran Jenang Perkasa: Lalu kapan kita akan berburu?

Pangeran Julela: Tahun depan! Sekarang tolong ambil kan dulu makanan kesukaanku?

Pangeran Jenang Perkasa: apa kanda? Makanan? Kenapa kakang tidak minta kepada dayang saja?

Pangeran Julela: Aku adalah putra mahkota, kelak aku akan menjadi raja jadi aku bebas memerintah siapapun termasuk kamu!

Pangeran Jenang Perkasa: Apa, kenapa kakang seperti itu, kenapa kakang menjadi sombong seperti itu?

Pangeran Julela: Lancang kamu Jenang! Kamu berani melawan aku!

Pangeran Jenang Perkasa: Kamu sudah keterlaluan kakang!

Pangeran Julela: Hei, kamu benar-benar melawan ya!

Pangeran Jenang Perkasa: (Langsung pergi tanpa menghiraukan Pangeran Julela)

Semakin hari tingkah Pangeran Julela semakin menjadi-jadi dan sewenang-wenang, contoh drama cerita rakyat. Akhirnya pangeran jenang perkasa akhirnya pergi meninggalkan kerajaan dan berlayar jauh tanpa tujuan. Sampailah ia ke pulau di mana Putri Pandan Berduri hidup. Di sana ia menjadi pedagang namun karena sikapnya yang bermartabat akhirnya ia menjadi bahan perbincangan seluruh warga.

Ryosan: Hei, kamu sudah pernah bertemu pedagang baru dari seberang laut yang banyak dibicarakan orang?

Kwidoi: Iya, saya pernah bertemu sekali, sepertinya dia bukan orang biasa?

Danoi: Kenapa bisa begitu

Kwidoi: Kulitnya bersih, tutur katanya juga sangat santun

Danoi: Benarkah?

Ryosan: Jadi benar yang dibicarakan itu?

Kwidoi: Iya, benar sekali. Dan yang terpenting ia menjual dagangan dengan harga yang tidak terlalu tinggi sehingga banyak orang sini yang suka dengan dia.

Danoi: Kamu tahu siapa dia?

Kwidoi: Menurut yang aku dengar ia bernama Jenang Perkasa. Itu yang aku tahu.

Masih asyik mereka bertiga membicarakan Pangeran Jenang Perkasa, tiba-tiba datanglah orang yang mereka bicarakan tersebut.

Pangeran Jenang Perkasa: Selamat siang bapak-bapak, ada yang mau beli kendi – kendi ini?

Ryosan: Ow, kendi, kamu siapa, sepertinya kamu bukan orang dari sini?

Kwidoi & Danoi: Iya benar.

Pangeran Jenang Perkasa: Benar bapak-bapak, aku adalah pedagang dari seberang laut. Sekarang aku menetap di kampung ini namun aku belum sempat bertemu dengan kepala suku di sini.

Ryosan: Ow, jadi kamu pedagang itu ya?

Pangeran Jenang Perkasa: Maksud bapak?

Kwidoi: Tidak-tidak, kendi ini berapa harganya?

Danoi: Yang ini berapa?

Pangeran Jenang Perkasa: Yang ini dua keping, dan yang ini satu keping.

Ryosan: Ow…

Kwidoi: Murah ya?

Danoi: Iya murah, tapi maaf nak, kami sedang tidak membutuhkan kendi, mungkin lain kali saja.

Pangeran Jenang Perkasa: Ow begitu, baik pak, tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu.

Ryosan: Silahkan

Pangeran Jenang Perkasa pun akhirnya meneruskan berdagang.

Ryosan: Memang benar, orangnya santun dan kulit tubuhnya bersih, sepert bangsawan.

Kwidoi: Benar, bukan orang biasa

Danoi: Iya dagangannya harganya berbeda jauh dengan pedagang lain.

Datanglah Pyalan yang baru selesai berbelanja menemui menyapa mereka.

Pyalan: Selamat siang bapak-bapak, masih santai ini sepertinya?

Ryosan: Oh iya, ini lagi membicarakan pedagang seberang laut itu

Kwidoi & Danoi: Benar-benar!

Pyalan: Pedagang yang mana?

Ryosan: Itu yang berdagang dengan harga murah dan perilakunya sangat santun.

Kwidoi: Orangnya yang tampan dan berkulit bersih itu tuan

Pyalan: Oh, jadi benar berita yang beredar?

Ryosan: Benar sekali, kampung kita kedatangan seorang pedagang yang sangat santun.

Danoi: Benar itu tuan, seperti dari kalangan bangsawan!

Batin Lagoi pun mendengar tentang pangeran jenang perkasa dari cerita Pyalan. Ia penasaran dan akhirnya mengundang seluruh orang penting di pulau tersebut untuk mengadakan pesta di rumahnya.

Batin Lagoi: Anakku, sudah lama aku tidak mengadakan pesta dengan rakyatku, bagaimana kalau lusa kita buat pesta makan?

Putri Pandan Berduri: Bagus itu ayah, aku senang nanti pasti ramai dan banyak yang datang

Batin Lagoi: Baiklah, aku akan segera meminta Pyalan menyiapkan segala sesuatunya.

Batin Lagoi pun memanggil Pyalan.

Batin Lagoi: Pyalan, aku ingin hari ini kau menyiapkan pesta makan untuk besok. Aku ingin mengadakan pesta dan mengundang para tua-tua adat serta tamu istimewa

Pyalan: Baiklah Tuan, lalu siapa saja yang akan kita undang, maksudku tamu istimewanya siapa?

Batin Lagoi: Semua tua-tua adat berikut orang terkenal di kampung kita. Jangan lupa, aku ingin engkau juga mengundang pedagang seberang laut yang kau ceritakan padaku itu. Aku ingin tahu seperti apa dia.

Pyalan: Baiklah tuan Batin… aku akan segera menyiapkan semuanya

Pyalan pun bergegas menyiapkan segala sesuatu. Dalam satu hari persiapan pun selesai karena banyak sekali orang yang dengan suka rela membantu persiapan pesta tersebut. Tibalah akhirnya saat pesta di mulai.

Ryosan: Aku senang sekali bisa datang ke pesta makan ini.

Kwidoi: Iya benar, Batin Lagoi memang benar-benar pemimpin yang baik

Danoi: Benar, dia tidak pernah sekalipun mengabaikan rakyatnya.

Sesaat kemudian…

Batin Lagoi: Saudara-saudaraku semua, aku mengundang kalian semua ke sini untuk mengadakan pesta. Pesta ini untuk bentuk rasa terima kasih ku atas semua berkah yang telah diberikan di kampung kita. Juga sebagai ucapan syukur karena putri tercinta ku telah beranjak dewasa dan menjadi seorang gadis yang cantik dan berbudi.

Putri Pandan Berduri: Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua yang sudah sudi hadir di sini. Mari kita nikmati pesta ini.

Pangeran Jenang Perkasa yang juga hadir dalam pesta itu diam-diam memperhatikan Putri Pandan Berduri. Sambil menyantap hidangan yang disediakan sesekali ia mencuri pandang.

Pyalan: Silahkan disantap hidangannya, jangan sungkan

Ryosan: Terima kasih tuan..

Danoi: Hei, anak muda, rupanya kau juga hadir disini, apa yang sedang kamu perhatikan?

Pangeran Jenang Perkasa: Ah, iya, saya juga diundang (dengan sedikit malu)

Baca Juga :  Apa itu Kas Kecil

Kwidoi: Jangan kaget anak muda, Tuan Batin memang baik dan sering mengadakan acara seperti ini untuk rakyatnya.

Danoi: Iya benar!

Sedang asyik mereka berbincang datanglah Batin Lagoi menghampiri mereka.

Ryosan: Mari tuan, silahkan

Kwidoi: Iya tuan, silahkan

Batin Lagoi: Iya, iya, tidak usah sungkan… Oh, sepertinya aku belum pernah melihat kamu, siapakah gerangan kamu anak muda?

Pangeran Jenang Perkasa: Aku pedagang dari seberang laut, Tuan, perkenalkan namaku Jenang Perkasa

Batin Lagoi: Ow… jadi kamu pedagang, dari mana asal mu

Pangeran Jenang Perkasa: Asal ku jauh Tuan, tapi itu tidak penting, yang terpenting adalah saya jatuh cinta dengan kampung ini dan jika diizinkan, aku ingin menetap disini Tuan

Batin Lagoi: Tentu saja, kenapa tidak, selagi engkau memberi manfaat pada warga kami, tapi sebelumnya boleh saya bertanya sesuatu?

Pangeran Jenang Perkasa: Tentu saja Tuan, silahkan

Batin Lagoi: Tutur katamu berbeda dengan rakyat biasa, dan saya dengar cara kamu berdagang juga begitu santun, apakah kamu dari keluarga bangsawan?

Pangeran Jenang Perkasa: Di seberang laut, keluarga saya memang berada tuan, tapi saya pergi dari rumah karena kesewenang-wenangan kakak saya. Saya lebih menjadi rakyat biasa yang berguna dari pada menjadi bangsawan yang tidak bijak.

Batin Lagoi: Hem… Sungguh mulia hati kamu nak.

Pangeran Jenang Perkasa: Hem… (hanya tersenyum malu)

Setelah pembicaraan tersebut di akhir pesta Pangeran Jenang Perkasa diundang ke kediaman Batin Lagoi. Disana Batin Lagoi mengutarakan niatnya untuk menjodohkan putrinya dengan Jenang Perkasa.

Batin Lagoi: Nak Jenang Perkasa, tadi engkau mengatakan bahwa engkau ingin tinggal di kampung ini. Saya akan mengabulkan permintaan dan izin yang kamu minta.

Pangeran Jenang Perkasa: Benarkah, terima kasih banyak Tuan, Tuan Batin sungguh baik.

Batin Lagoi: Ada satu cara agar engkau bisa tinggal disini dengan damai dan bahagia yaitu dengan memiliki istri disini. Jadi, maukah engkau menikah dengan putri ku?

Pangeran Jenang Perkasa: Maaf Tuan, apa tidak salah, aku hanya rakyat biasa yang tak punya apa-apa…

Batin Lagoi: Tidak, sama sekali tidak salah, kamu adalah pemuda yang berbudi dan itu sudah cukup. Jadi maukah kamu?

Pangeran Jenang Perkasa: Tentu saja Tuan, dengan senang hati. Tapi tetap saja aku merasa tidak layak untuk putri Tuan yang cantik jelita itu.

Batin Lagoi: Sudahlah, tak usah sungkan, aku yakin kamu bisa membahagiakan anak ku tersebut.

Akhirnya putri pandan berduri dan pangeran jenang perkasa pun menikah dan hidup bahagia bersama 3 orang anaknya. Pangeran Jenang Perkasa pun akhirnya menggantikan Batin Lagoi menjadi kepala suku di sana. Ia memerintah dengan sangat bijaksana hingga daerah tersebut semakin maju dan makmur. Pangeran Jenang Perkasa dan keluarganya pun menghabiskan hidup dengan damai


Amanat Cerita Pandan Berduri

Cerita atau dongeng biasanya sering kita dengar pada orang tua kita maupun orang lain, entah itu cerita lucu, sedih, bahkan cerita seram. Biasanya sebuah cerita di ambil dari nama tempat, watak seseorang, kerajaan, hewan dan lain sebagainya.

Nah, di bawah ini sebuah cerita tentang seorang raja yang menemukan bayi di sebuah semak-semak pandan.

Alkisah, hiduplah seorang yang gagah perkasa bernama Batin Lagoi, pemimpin suku laut atau orang sampan, di pulau Bintan. Pada suatu hari, Batin Lagoi menemukan bayi perempuan di semak-semak pandan. Dengan hati- hati, diambilnya bayi itu dan di bawa pulang. Bayi itu kemudian ia beri nama Putri Pandan Berduri.

Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kecantikannya mengundang kekaguman para pemuda di pulau Bintan. Akan tetapi, tak seorang pun yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau megat.

Sementara itu, di pulau galang tersebutlah seorang megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak tertua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Setelah keduanya beranjak dewasa, Julela menjadi megat yang sombong. Sikapnya sangat tidak di sukai rakyatnya. Ia selalu bertindak sewenang- wenang dan berperangai buruk, bahkan kepada adiknya sendiri. Jenang Perkasa sangat sedih melihat perangai abangnya itu. Oleh karena itu, timbulah keinginannya untuk meninggalkan pulau galang.

Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar mengarungi lautan luas, hingga sampailah ia di pulau Bintan. Di sana, ia tidak mengaku sebagai anak seorang megat. Ia selalu bertutur kata lembut kepada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.

Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan. Semua orang di sampan diundangnya, termasuk Jenang Perkasa. Jenang Perkasa pun pergi memenuhi undangan itu. Setelah acara perjamuan selesai, ia menghampiri Jenang Perkasa dan menyapanya, “Apa kabar, Jenang Perkasa? Aku senang kau datang memenuhi undanaganku. Aku juga sangat terkesan dengan tingkah lakumu yang penuh dengan tatakrama. Bersediakah engkau aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri?” tanya Batin Lagoi.


Ringkasan Cerita Putri Pandan Berduri

Alkasih pada jaman dulu di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, hiduplah orang orang Suku Laut yang dipimpin oleh Batin Lagoi. Pemimpin Suku Laut ini merupakan seorang yang santun dan memimpin dengan adil. Tutur katanya yang lemah lembut terhadap siapa saja membuat masyarakat Suku Laut sangat mencintai pemimpin mereka itu.

Guna mengetahui keadaan rakyatnya, Batin Lagoi senantiasa berkeliling. Pada suatu hari, Batin Lagoi berjalan menyusuri pantai yang disekitarnya penuh ditumbuhi semak pandan. Sayup sayup telinga Batin Lagoi menangkap suara tangisan bayi.

“Anak siapa itu yang menangis di tempat seperti ini ?” pikirnya heran sambil memandang sekeliling. Karena ia tak melihat seorangpun, Batin Lagoi meneruskan langkahnya.

Baru beberapa langkah, Batin Lagoi kembali mendengar suara tangisan bayi yang kini semakin jelas. Batin Lagoi kembali memandang sekeliling, namun ia tak jua melihat seorangpun disana. Karena penasaran, Batin Lagoi mengikuti asal suara tangisan yang membawanya ke semak semak pandan. Batin Lagoi menginjak semak semak itu dengan hati hati. Suara tangisan bayi terdengar semakin keras. Batin Lagoi tercengang melihat seorang bayi perempuan yang diletakkan di atas dedaunan yang kini berada di depannya.

Rasa heran kembali menyergap Batin Lagoi. ‘Siapa gerangan yang meletakkan bayinya disini ?’, gumamnya pelan. Batin Lagoi terdiam sejenak. Setelah memastikan tak ada orang di sekitar situ, Batin Lagoi memutuskan untuk membawa pulang bayi perempuan yang cantik itu. Sang bayipun berhenti menangis ketika Batin Lagoi menggendongnya.

Batin Lagoi merawat bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang bak anaknya sendiri. Terkadang ia merasa bayi itu memang diberikan Tuhan untuknya. Bayi perempuan yang diberinya nama Putri Pandan Berduri itu sungguh membawa kebahagiaan bagi Batin Lagoi yang selama ini hidup sendiri.

demikianlah artikel dari dunia.pendidikan.co.id mengenai Cerita Putri Pandan Berduri : Sejarah, Legenda, Naskah Drama, Amanat, Gambar, Ringkasan Ceritanya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.