Asal Usul Kota Depok

Diposting pada

Terbentuknya Kota Depok

Dengan semakin pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat yang semakin mendesak agar Kota Administratif Depok diangkat menjadi Kotamadya dengan harapan pelayanan menjadi maksimum. Disis lain Pemerintah Kabupaten Bogor bersama-sama Pemerintah Propinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tesebut, dan mengusulkannya kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Berdasarkan Undang-undang No. 15 tahun 1999, tentang pembentukan Kotamadya Daerah Tk. II Depok yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999, dan diresmikan tanggal 27 April 1999 berbarengan dengan Pelantikan Pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Depok yang dipercayakan kepada Drs. H. Badrul Kamal yang pada waktu itu menjabat sebagai Walikota Kota Administratif Depok.

Momentum peresmian Kotamadya Daerah Tk. II Depok dan pelantikan pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Depok dapat dijadikan suatu landasan yang bersejarah dan tepat untuk dijadikan hari jadi Kota Depok.

Berdasarkan Undang-undang nomor 15 tahun 1999 Wilayah Kota Depok meliputi wilayah Administratif  Kota Depok, terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan sebagaimana tersebut diatas ditambah dengan sebagian wilayah Kabupaten  Daerah Tingkat II Bogor, yaitu:

  1. Kecamatan Cimanggis, yang terdiri dari 1 (satu) Kelurahan dan 12 (dua belas) Desa, yaitu: Kelurahan Cilangkap, Desa Pasir Gunung Selatan, Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Cisalak Pasar, Desa Curug, Desa Hajarmukti, Desa Sukatani, Desa Sukamaju Baru, Desa Cijajar, Desa Cimpaeun, Desa Leuwinanggung.
  2. Kecamatan Sawangan, yang terdiri dari 14 (empat belas) Desa, yaitu: Desa Sawangan, Desa Sawangan Baru, Desa Cinangka, Desa Kedaung, Desa Serua, Desa Pondok Petir, Desa Curug, Desa Bojong Sari, Desa Bojong Sari Baru, Desa Duren Seribu, Desa Duren Mekar, Desa Pengasinan Desa Bedahan, Desa Pasir Putih.
  3. Kecamatan Limo yang terdiri dari 8 (delapan) Desa, yaitu: Desa Limo, Desa Meruyung, Desa Cinere, Desa Gandul, Desa Pangkalan Jati, Desa Pangkalan Jati Baru, Desa Krukut, Desa Grogol.
  4. Dan ditambah 5 (lima) Desa dari Kecamatan Bojong Gede, yaitu: Desa Cipayung, Desa Cipayung Jaya, Desa Ratu Jaya, Desa Pondok Terong, Desa Pondok Jaya.

Saat ini orang lebih mengenal kota Depok sebagai kota pelajar, khususnya dengan adanya kampus Universitas Indonesia (UI) dan beberapa kampus lainnya. Kawasan Margonda adalah kawasan yang paling hidup dan hampir selalu macet, karena banyak mall berdiri disana. Kawasan ini oleh warga Depok sering disebut sebagai kawasan Depok Baru.

Asal Usul Kota Depok

Sejarah Depok

Masyarakat Depok menyebut sebuah wiayah yang dikenal dengan nama Depok Lama. Karena wilayah inilah asal muasal dari kota Depok. Sejarahnya, kata Depok itu berasal dari kata padepokan, karena dahulu disana banyak tempat untuk melakukan semedi. Tetapi utak atik gatuk ada juga menyebutkan bila asal nama Depok merupakan berasal dari singkatan dari bahasa Belanda yaitu “De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen” yang mempunya arti jemaat Kristen yang pertama.

Menurut sejarahnya Kota Depok berawal dari seorang yang bernama Cornelis Chastelein yang mendatangkan seorang “budak” yang berasal dari luar Jawa (Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Timor). Namun, karena Cornelis Chastelein anti dengan perbudakan, jadi para penggarap tanah pertanian  tak disebut dengan “budak” melainkan dianggap seperti keluarga dan membentuk 12 marga.

Ke-12 marga iniah yang keudian menjadi cikal bakal penduduk dari kota Depok, dan memiliki status sebagai warga yang eksklusif karena dibedakan dengan para pendudukan lokal. Perbedaan ini karena mereka itu bisa berbicara bahasa Belanda, serta hidup seperti orang Eropa baik dalam berbusana maupun dari segi budayanya, anak-anak juga memperoleh pendidikan dan sekolah dengan bersepatu, berbeda dengan anak-anak penduduk lokal yang bertelanjang kaki. Sekolah di Depok pada zaman dahulu yang jadi saksi sejarah ialah Europeesch Lagere School (sekarang bernama SDN Pancoran Mas).

Baca Juga :  Kesimpulan Bela Negara

Kesenjangan ini pulalah yang kemudian memicu pengusiran dari warga lokal pada saat era kemedekaan, karena mereka semua dianggap sebagai antek penjajah, dan sekarang ini tinggal tersisa sedikit sekali keturunan dari ke-12 marga itu.


Pemimpin Kota Depok

Dari tahun 1982-1999, penyelenggaraan pemerintah Kota Administratif Depok mengalami pergantian Kepemimpinan sebagai berikut:

kota depok


Fasilitas Pendidikan Kota Depok

  1. Taman kanak-kanak :    17 buah
  2. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah :  442 buah
  3. SMP/MTS :  192 buah
  4. SMU/MA :    91 buah
  5. Perguruan Tinggi :      5 buah
  6. SLB :      4 buah

Fasilitas Transportasi Kota Depok

  1. Terminal Terpadu :  1 buah
  2. Stasiun Kereta Api :  5 buah

Fasilitas Kesehatan Kota Depok

  1. Rumah Sakit Umum :    4 buah
  2. Puskesmas :   24 buah
  3. Posyandu : 637 buah
  4. Klinik KB            : 176 buah
  5. Apotik :   77 buah

Topografi Kota Depok

Kota Depok merupakan dataran landai denga rata-rata ketinggian 121 m dari permukaan laut dan merupakan daerah resapan air bagi DKI Jakarta. Secara topografis wilayah ini perlu dikendalikan dan direncanakan pembangunannya sehingga tidak mengancam ketersediaan air bagi wilayah DKI Jakarta.


Penggunaan Lahan Kota Depok

Kondisi wilayah Kota Depok Merupakan tanah darat dan tanah sawah. Sebagian besar tanah darat merupakan areal pemukiman sesuai dengan fungsi kota Depok yang dikembangkan sebagai pusat pemukiman, pendidkan, perdaganagn dan jasa.  Secara rinci penggunaan lahan adalah sebagai berikut:

  • Pemukiman  : 10.968 Ha
  • Pertanian :  4.653 Ha
  • Industri  : 344 Ha
  • Rawa/Setu : 91 Ha
  • Lain-lain  : 3.973 Ha

Prasaranan Jalanan Kota Depok

Prasarana jalan sebagai penunjang kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah kota Depok meliputi:

  • Jalan Negara                     :   21,3 Km
  • Jalan Propinsi                   :    254 Km
  • Jalan Kabupaten              :   10,8 Km
  • Jalan Kecamatan/Desa   : 120,2 Km
  • Jalan lain-lain                   :    129 Km

Fasilitas Engergi Kota Depok

Kebutuhan Listrik bagi Kota Depok dilayani oleh PLN, Jumlah pelanggan saat ini berjumlah 85.000 (99,27%) sambungan denga kekuatn 281.856 KVA.


Fasilitas Air Bersih Kota Depok

Pelayanan air bersih dilaksanakan oleh PDAM sampai saat ini penduduk yang telah terlayani sebanyak 197.484 jiwa (54,26%). Sumber air bersih berasal dari sungai Ciliwung dan sumur bor dengan debit 323 liter/detik.


Jenis Kewenangan Pangkal

  1. Urusan Pemerintahan Umum
  2. Kesehatan
  3. Pendidikan dan Kebudayaan
  4. Pekerjaan Umum
  5. Lalu lintas dan Angkutan jalan
  6. Sosial
  7. Keuangan Daerah
  8. Lingkungan Hidup
  9. Kependudukan dan Catatan Sipil
  10. Pertanian dan Tanaman Pangan
  11. Perkebunan
  12. Perikanan
  13. Peternakan
  14. Perindustrian dan Perdagangan
  15. Pertambangan Pariwisata
  16. Tenaga Kerja

Letak Geografis Kota Depok

Kota Depok terletak disebelah Barat/Utara wilayah Kabupaten Dati II Bogor dan berbatasan langsung dengan Wilayah DKI Jakarta, Kabupaten Tanggerang dan Kabupaten Bekasi. Secara Administratif Kota Depok mempunyai batas-batas sebagai berikut:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan DKI Jakarta dan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tanggerang.
  2. Sebelah Selatan berebatasan dengan Kecamatan Bojong Gede dan Cibinong Kabupaten Bogor.
  3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gunung Sindur dan Parung Kabupaten Bogor.
  4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten bogor dan Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi.

Tempat Peninggalan Kota Depok

Jika di Jakarta terdapat Kota Tua yang dianggap sebagai Jakarta-nya tempo dulu, maka di Depok juga terdapat kawasan yang merupakan kota tua-nya depok yaitu yang disebut dengan Depok Lama. Kawasan Depok Lama ini meliputi seluruh Kelurahan Depok termasuk Jalan Pemuda dan sekitarnya, Jalan Siliwangi dan sekitarnya, Jalan Kartini dan sekitarnya, Stasiun KA Depok (dahulu bernama stasiun Depok Lama) dan sebagian Jalan Dewi Sartika. Tapi tidak hanya di Kawasan Depok Lama terdapat tempat dan situs bangunan bersejarah di Depok, masih banyak di luar kawasan tersebut yang juga mempunyai nilai sejarah.

Baca Juga :  Contoh Kalimat Langsung dan Tak Langsung

Salah satu kawasan Depok Lama yaitu di sepanjang Jalan Pemuda di Kel. Depok, Kec. Pancoran Mas. Di sini masih dapat ditemui bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur Belanda.


  • Monumen Cornelis Chastellain

Monumen ini sekarang berada di halaman depan dalam areal Rumah Sakit Harapan Depok, rumah sakit pertama yang berdiri di Depok. Monumen ini didirikan pertama kali pada tahun 1914 masih di zaman pemerintahan kolonial Belanda dan merupakan tugu pertama yang ada di Depok ketika itu. Pada tahun 1960, tugu ini dihancurkan. Tidak ada yang tahu pasti kenapa tugu tersebut dihancurkan.

Pada tahun 2002, Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) merencanakan pembangunan kembali tugu tersebut namun belum mendapatkan izin dari pemerintah dengan alasan bahwa Cornelis Chastelein bukanlah seorang pejuang atau pahlawan dan sebuah tulisan kalimat pada tugu yang dianggap berbau SARA. Baru pada tahun 2014 tugu ini baru dibangun kembali setelah mendapat ijin serta dihilangkannya tulisan yang dianggap berbau SARA.

monumen cornelis

Letak Monumen/Tugu Cornelis Chastellain berada di jalan Pemuda, Kel. Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Berjarak kurang lebih 2 km dari Gedung Walikota Depok, Jl. Margonda. Kini tugu tersebut dianggap sebagai Titik Nol Km Depok.


  • Rumah Sakit Harapan Depok

Masih berada di kawasan Jalan Pemuda, dahulunya bangunan yang dijadikan rumah sakit ini adalah bangunan kantor dari Cornelis Chastellain yang merupakan pusat pemerintahan kotapraja Depok dimasa lampau. Diperkirakan bangunan tersebut dibangun pada tahun 1880.

SDN Pancoran Mas 2
Bangunan sekolah dasar ini dahulunya merupakan satu areal dengan bangunan RS Harapan Depok. Dimasa lalu, Cornelis Chastellain menggunakan bangunan ini sebagai tempat ia mengajar kepada para budak pekerjanya.


  • GPIB Immanuel

Bagunan gereja ini dibangun pada tahun 1714. Awalnya bernama Gereja Jemaat Masehi dan kemudian berganti nama menjadi GPIB Immanuel.

Sayangnya, Kawasan Depok Lama menurut YLCC, sekarang hampir 75 persen bangunan tua yang tersisa telah mengalami alih fungsi. Hal ini dikarenakan belum ditetapkannya bangunan-bangunan di Kawasan Depok Lama sebagai Cagar Budaya dan Kawasan Wisata Sejarah, sementara desakan atas nama kebutuhan ekonomi semakin tinggi sehingga terjadi perubahan fungsi bangunan menjadi minimarket, ruko dll.


  • Jembatan Panus

Jembatan yang dibangun pada tahun 1917 oleh Stefanus Leander ini pada masa lalu jembatan ini merupakan jalan yang penghubung utama antara Depok dengan Bogor. Jembatan Panus menghubungkan Jalan Siliwangi dengan Jalan Tole Iskandar. Jembatan ini tidak lebar (sekitar 4 meter) dan hanya dapat dilalui satu kendaraan, karena itu bila ada dua kendaraan yang akan lewat dari dua arah yang berbeda harus dilakukan secara bergantian. Yang menarik, pada tiang-tiang beton penyangga jembatan ini terdapat garis ukur untuk mengukur ketinggian air sungai Ciliwung yang ada di bawahnya. Ketinggian air sungai Ciliwung yang berada di bawah Jembatan Panus ini juga menjadi indikator atau barometer debit air sungai Ciliwung setelah bendungan Katulampa di Bogor untuk kewaspadaan terhadap banjir di Jakarta.

jembatan panus depok

Kini jembatan ini hanya digunakan untuk akses ke sebuah kawasan perumahan dan sekitarnya, karena telah dibuatkan sebuah jembatan pengganti (dibangun pada tahun 1992) yang lebih lebar di sisi jembatan Panus. Walau demikian, jembatan pengganti ini disebut dengan Jembatan Panus Baru, dan jembatan sebelumnya disebut Jembatan Panus Lama.


Rumah Cimanggis

Rumah ini dahulunya adalah tempat tinggal dari istri Gubernur Jendral VOC Robertus Van Der Parra. Kondisi bangunan yang dibangun selama 3 tahun tersebut (1775-1778) kini dalam keadaan rusak. Lokasi rumah ini berada di lahan RRI Radar Cimanggis, Depok. Walaupun telah mendapatkan rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) agar Rumah Cimanggis ini menjadi Benda Cagar Budaya namun khabar terakhir yang beredar menyebutkan bahwa di areal tersebut akan dibangun sebuah kampus besar bernama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

rumah cimanggis depok


Depok Lama

Tak susah menemukan kawasan dari Depok Lama, jika dari stasiun UI, Anda cukup naik commuter line terus turun di tiga stasiun selanjutnya yaitu stasiun (Pondok Cina-Depok Baru-Depok Lama). Atau apabila Anda dari jalan Margonda, maka naiklah dari stasiun Pondok Cina terus turun di dua stasiun selanjutnya (Depok Baru- Depok Lama).

Baca Juga :  Bank Sentral Di Indonesia

Menurut sejarahnya istilah dari Pondok Cina, ialah tempat untuk menginap para pedagang dari Cina yang kemalaman sesudah seharian berdagang di Depok. Cornelis Chastelein seorang pendiri kota Depok pada masa lalu, melarang para pedagang Cina tinggal dan menginap di kota Depok.

Dan sekarang Pondok Cina lebih dikenal dengan nama jalan Margonda Raya, jika Anda melihat bangunan tua yang berwarna putih yang memiliki arsitektur neo-classic, yang saat ini berupa cafe The Old House Coffee, merupakan salah satu bangunan peninggalan pada masa lalu yang dibangun oleh seorang arsitek Belanda. Sekarang sudah berdiri sebuah mall Margo City dan hotel disekitarnya.

Stasiun Depok merupakan stasiun tua yang saat ini beroperasi dengan jumlah empat jalur rel kereta api yang menghubungkan daerah Depok menuju Jakarta dan Bogor. Pada saat turun commuter line, Anda akan melihat jalan di kiri-kanannya banyak dari puluhan pedagang minuman dan makanan. Dan diantara para pedagang, berdiri sebuah gedung tua dulu pernah berfungsi sebagai seminari yang menghasilkan pendeta Kristen dan rohaniwan. Seminari ini adalah cikal bakal Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Jakarta. sekarang bangunan seminari ini dipergunakan menjadi sebuah gereja yaitu Gereja Kristen Pasundan.


Presiden Depok

Pada tahun 1861 Depok mempunyai pemerintahan yaitu presiden yang sudah diakui Kerajaan Belanda dan dibantu oleh Sekretaris, seorang Ahli Pembukuan dan juga dua orang Komisaris. Tercatat di dalam sejarah kota Depok, Johanes Matheis Jonathan, adalah presiden Depok ke-5 dan juga yang terakhir. Presiden dipilih berdasarkan oleh pemilihan umum.

Jika ingin mencari rumah presiden Depok pun tak susah, karena rumahnya berada di depan pada sebuah monumen yang dibangun tepat di halaman depan bekas istana presiden Depok. Di jalan ini juga ada bangunan tua yang direstorasi menjadi sebuah restoran Khasanti yang memasarkan berbagai kuliner asli Kota Depok. Namun, kuliner Depok ini masih sulit untuk dideteksi, karena kuliner Depok zaman dulu dipengaruhi kuliner Belanda, contohnya sup breinebon, makaroni, bistik dan lain sebagainya.


Gereja Tertua Depok

Bangunan tua bersejarah lainnya ialah gereja tertua yang ada di Depok. Kota yang terkenal sebagai kota yang memiliki banyak gereja, ada kurang lebih 50 gereja yang ada kota Depok. Itu disebabkan karena Cornelis Chastelein mendirikan sebuah komunitas berbudaya Belanda berlandaskan dengan nilai-nilai dari Kristiani. Setiap pintu gereja, Anda akan melihat sebuah pahatan dari ke-12 marga. Namun, masyarakat Depok menyebut warga dan 12 marga serta para keturunannya dengan nama “Belanda Depok”. Gereja tertua ini sekarang berfungsi menjadi gereja GPIB Immanuel.

Yaitu Yayasan Lembaga Cornelis Chasletein yang saat ini menaungi aset-aset para komunal warga asli Depok. Dan juga berfungsi menjadi lembaga sosial serta pendidikan para keturunan 12 marga Depok. Di gedung juga anda bisa menyaksikan peninggalan-peninggalan masa lalu dari kota Depok.

Dan bagi para pecinta sejarah dan juga bangunan kuno, di kota Depok, khususnya di Depok Lama dapat anda jadikan daftar tujuan wisata untuk menjelajah masa lalu. Ada dua institusi diketahui pernah menyelenggarakan kegiatan Jelajah Depok ialah Jakarta Food Adventure dan Love Our Heritage.


demikianlah artikel dari dunia.pendidikan.co.id mengenai Asal Usul Kota Depok : Sejarah Letak Geografis, Peninggalan, Pemimpin, Fasilitas, Topografi, Penggunaan Lahan, Prasarana, Jenis Kewenangan, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.