Realistis Adalah

Diposting pada

Pengertian Realistis

Realistis adalah cara berpikir yang penuh perhitungan dan sesuai dengan kemampuan, sehingga gagasan yang akan diajukan bukan hanya angan-angan atau mempi belaka tetapi adalah sebuah kenyataan. Seorang yang berwirausaha harus mempunyai cara berpikir yang realistis jangan hanya sebuah angan-angan tetapi tidak dilaksanakan.

realistis adalah

Realistis adalah kondisi dimana seseorang merasa sudah tidak harus berpegang terhadap prinsip dasar, dimana setiap orang pasti memilikinya dari keluarga maupun lingkungan lain. Hal ini berbeda dengan Idealis yang berarti prinsip atau ideologi seseorang yang mana sangat berpengaruh dalam setiap sisi kehidupan.


Hubungan Berpikir Realistis Dan Idealisme

Berpikir realistis adalah orang yang melihat situasi dan terkadang cermat dalam melihat peluang. Pada kenyataannya seseorang yang berpikir realis terkadang bisa menjadi apa saja asalkan dia membutuhkan sesuatu. Etos kerja dan tidak memilah-memilah pekerjaan adalah salah satu keunggulan orang yang realis. Mereka terkadang berpikir bahwa suatu idealisme tidak sesuai dengan kondisi masyarakat yang memang susah untuk disamakan dengan teori ilmu pengetahuan. Terkadang seseorang realistis juga melakukan banyak kesalahan yang mana tidak sesuai dengan norma hidup.

Sedangkan di sisi idealisnya adalah seseorang yang sangat berpegang teguh terhadap idealisme dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Seseorang yang idealis sangat susah untuk dipatahkan dalam berpendapat, serta sangat kaku dalam pemikirannya. Tetapi sisi positif orang yang idealis ialah mereka sosok yang tidak pernah goyah untuk melakukan hal yang jauh melenceng dan bisa dikatakan negatif. Idealis akan mendorong seseorang untuk belajar agar memiliki prinsip yang teguh, tidak mudah terpengaruh, dan kritis.


Tips Berpikir Realistis

Kita semua bsa di buat macet dan terhenti karena pikiran negatif dari waktu ke waktu, seperti memanggil diri kita dengan ‘idiot’, ‘gowblok’, ‘pecundang’, berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang menyukai kita, berpikir sesuatu yang buruk bakal terjadi, atau percaya bahwa kita tidak dapat mengatasi suatu hal betapapun keras kita berusaha. Ini adalah hal normal.

Baca Juga :  Lapisan Ozon

Tak seorang pun yang sepanjang waktu berpikir positif, apalagi dalam kondisi cemas.
Ketika kita merasa cemas, kita cenderung untuk melihat dunia sebagai tempat yang mengancam dan berbahaya. Reaksi ini berguna bagi kita, karena membayangkan suatu hal buruk dapat membantu kita bersiap diri pada bahaya nyata, yang mampu melindungi diri kita.

Sebahgai contoh, jika kamu sendirian di rumah dan mendengar suara goresan yang aneh di jendela, kamu mungkin berpikir itu adalah maling. Jika kamu percaya bahwa itu adalah maling, kamu akan menjadi sangat cemas dan bersiap untuk lari meninggalkan rumah, bersiap melakukan perlawanan, atau segera menelpon memanggil bantuan. Walaupun respon kecemasan ini berguna jika memang benar ada maling di jendela, hal itu menjadi tidak berguna jika apa yang kamu sangka salah.

Sebagai contoh, suara yang muncul mungkin karena adanya batang pohon yang menggores jendela kerena tertiup angin. Dalam kasus ini, pikiranmu salah karena tidak ada bahaya nyata.

Permasalahan dalam berpikir dan bertindak yang mana seolah-olah ada bahaya ketika tidak ada bahaya nyata adalah bahwa kamu merasa cemas yang tidak perlu. Karena itu, satu strategi yang efektif untuk mengelola rasa cemasmu adalah dengan mengganti rasa cemas, pikiran negatif dengan pikiran realistis.
Berpikir realistis berarti melihat semua aspek dari sebuah situasi (positif, negatif, dan netral) sebelum membuat kesimpulan. Dengan kata lain, berpikir realistis berarti melihat dirimu, orang lain, dan dunia dengan cara yang seimbang dan adil.

Bagaimana cara melakukannya :

1.beri perhatian pada ‘bicara pada diri sendiri’ mu.Pemikiran adalah suatu hal yang kita katakan pada diri kita sendiri tanpa mengucapkan (bicara pada diri sendiri). Kita bisa memiliki banyak pemikiran setiap harinya. Kita semua memiliki cara berpikir mengenai suatu hal yang berbeda-beda, dan bagaimana kita berpikir memiliki pengaruh yang besar pada perasaan kita. Ketika kita berpikir bahwa sesuatu yang buruk bakal terjadi – seperti ketika akan digigit anjing – kita merasa cemas.

Baca Juga :  Apa Itu Ice Breaking

Sebagai contoh, bayangkan kamu sedang berjalan munyusuri jalan dan kamu melihat seekor anjing. Jika kamu berpikir anjing itu berbahaya dan akan menggigit, kamu akan merasa takut. Tetapi, jika kamu berpikir anjing itu manis, kamu akan merasa calm. Seringkali kita tidak menyadari apa yang kita pikirkan, tapi karena ini memiliki pengaruh pada perasaan kita, penting kiranya kita mulai memperhatikan pada apa yang kita katakan pada diri kita.

2. kenali pikiran yang membuat kita merasa cemas. perlu waktu agak lama dan latihan untuk mengenali pikiran specifik yang membuat kita cemas, berikut beberapa tip yang bisa membantu: beri perhatian pada perubahan kecemasan, betapapun kecilnya.


Cara  Menemukan Tujuan Yang Realistis

Setiap orang ingin mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya. Selain mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda akan memiliki harga diri, merasa bahagia, dan hidup sejahtera jika memiliki tujuan dan berhasil mencapainya. Hal ini bisa terwujud jika Anda mampu menentukan tujuan yang realistis. Tujuan yang realistis membuat Anda lebih memotivasi daripada tujuan yang melebihi kemampuan.


Teori Konflik Realistis

Peristiwa teori Robers Cave menirukan jenis-jenis konflik konflik yang terjadi yang meresahkan banyak orang di seluruh dunia (Taylor & Moghaddam, 1994). Penjelasan paling sederhana untuk konflik ini adalah, kompetisi. Memasukkan orang asing kedalam kelompok kelompok kecil, lalu menciptakan perdebatan antar kelompok, ciptakan masalah , dan segera terjadi konflik.

Pandangan bahwa persaingan langsung bagi sumber daya yang terbatas  menghasilkan permusuhan antara kelompok-kelompok, hal ini disebut teori konflik realistik (Levine & Campbell, 1972). Contoh mudahnya dalam hal ekonomi, satu kelompok dapat membayar lebih untuk mendapatkan  tempat tinggal , pekerjaan, atau kekuasaan daripada kelompok lain. Sedangkan  kelompok lainnya ada yang menjadi frustrasi dan kesal, kelompok yang lebih mampu merasa terancam, dan sebelum masalah semakin jauh, konflik justru sudah memuncak. Kemungkinan besar, banyak prasangka di dunia didorong oleh realitas dalam persaingan (Olzak & Nagel, 1986; Taylor & Moghaddam, 1994).

Baca Juga :  Konsep Pembagian Kekuasaan Di Indonesia

Jika teori konflik realistis adalah benar, bagaimanapun juga, maka prasangka kemungkinan ditemukan hanya di antara orang-orang yang takut bahwa kualitas hidup mereka sedang terancam oleh suatu kelompok dari luar. Tidak begitu. Warga kulit putih Amerika yang tidak terpengaruh oleh pembauran sekolah dan perumahan sederhana berprasangka terhadap orang kulit hitam sebagai orang-orang yang secara pribadi tersentuh oleh kebijakan tersebut. Mungkinkah konflik realistis tidak berhubungan dengan prasangka?

Sebagaimana komplain dari orang Amerika kulit putih yang mengeluhkan tentang tindakan penyetujuan kebijakan yang memberikan kecenderungan hak istimewa untuk kelompok minoritas, tampaknya memang suatu kompetisi memang bermuatan suatu prasangka. Kita telah tersugesti, sebagai contoh, bahwa cara menangani tensi rasisme yang berasal dari mereka yang telah dikecewakan adalah dengan mengurangi pengeluaran mereka.


Teori Identitas Sosial

Pertanyaan-pertanyaan ini pertama kali berkembang dalam studi anak-anak sekolah menengah di Bristol, Inggris, dilakukan oleh Henry Tajfel dan rekan-rekannya (1971). Penelitian tersebut dirancang untuk menciptakan kelompok minimal atau sekumpulan orang yang dikategorikan berdasarkan hal hal kecil,  kesamaan penting minimal. Over estimate berlebihan Tajfel ataupun under estimate tidak lagi merupakan istilah yang berbeda, tidak memiliki sejarah antagonisme,  tidak bersaing untuk sumber daya yang terbatas,

dan bahkan tidak saling berhubungan. Namun, tetap menjadi subjek secara konsisten yang mengalokasikan nilai lebih kepada anggota dari kelompok kelompok mereka daripada mereka yang di kelompok lain. Pola diskriminasi ini, disebut sebagai sifat favoritisme ingroup, dan telah ditemukan pada studi yang diadakan di banyak negara. Mereka juga membuat “etnosentris”, atribusi untuk keberhasilan dan kegagalan anggota ingroup sesama daripada untuk orang lain (Weber, 1994).


demikianlah artikel dari dunia.pendidikan.co.id mengenai Realistis Adalah : Pengertian, Tips Berpikir, cara Menemukan Tujuan, Teori, semoga artikel ini bermanfaaat bagi anda semuanya