Sifat Koloid

Diposting pada

Pengertian Koloid

Kata koloid berasal dari bahasa Yunani kolla yang berarti lem, karena dahulu koloid dianggap mirip lem. Klasifikasi koloid yang pertama diajukan oleh Von Weimar dan Ostwald, istilah sistem terdispersi diperkenalkan, dan ukuran partikel digunakan sebagai faktor utama dalam klasifikasi dan karakterisasi koloid.

Koloid adalah zat yang terdiri atas medium homogen dan partikel yang terdispersi di dalamnya. Namun, tidak semua sistem terdispersi merupakan koloid.

koloid

Menurut Lumière dan Staudinger, semua koloid dapat digolongkan menjadi koloid molekuler dan koloid asosiasi (miselar). Partikel koloid molekuler adalah makromolekul tunggal, dan strukturnya kurang lebih sama dengan struktur molekul kecil, yaitu atom-atom terikat oleh ikatan kimia sejati. Contoh: tepung, polyvinyl chloride (PVC), spherocolloids seperti glikogen, albumin, dan sebagainya.

Struktur koloid asosiasi agak berbeda. Partikel koloid miselar bukan molekul besar tetapi agregat dari banyak molekul kecil atau kelompok atom yang terikat oleh ikatan sekunder, seperti kohesi atau gaya van der Waals.


Jenis – Jenis Koloid

Sistem koloid tersusun dari fase terdispersi yang tersebar merata dalam medium pendispersi. Fase terdispersi dan medium pendispersi dapat berupa zat padat, cair, dan gas. Berdasarkan fase terdispersinya, sistem koloid dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu :


  • Sol (fase terdispersi padat)

Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat

  • Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam

Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair

  • Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat

Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas

  • Contoh: debu di udara, asap pembakaran

  • Emulsi (fase terdispersi cair)

Emulsi padat adalah emulsi dalam medium pendispersi padat

  • Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi

Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair

  • Contoh: susu, mayones, krim tangan

Emulsi gas adalah emulsi dalam medium pendispersi gas

  • Contoh: hairspray dan obat nyamuk

  • BUIH (fase terdispersi gas)

Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat

  • Contoh: Batu apung, marshmallow, karet busa, Styrofoam

Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair

  • Contoh: putih telur yang dikocok, busa sabun
Baca Juga :  Perdagangan Internasional

Untuk pengelompokan buih, jika fase terdispersi dan medium pendispersi sama- sama berupa gas, campurannya tergolong larutan.


Sifat – Sifat Koloid


  • Efek Tyndall

Salah satu cara menentukan koloid yaitu dengan menjatuhkan seberkas cahaya kepada obyek. Larutan bersifat meneruskan cahaya sedangkan koloid bersifat menghamburkan cahaya. Berkas cahaya yang melalui koloid dapat diamati dari arah samping walaupun partikel koloidnya tidak tampak. Jika partikel terdispersinya kelihatan maka sistem disebut suspensi. Efek Tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid. Contoh peristiwa efek Tyndall adalah sorot lampu pada malam yang berkabut, sorot lampu proyektor di ruangan yang berasap, dan berkas sinar matahari melalui celah daun pohon pada pagi yang berkabut.


  1. Gerak Brown

Gerak zig-zag partikel koloid secara terus-menerus disebut gerak Brown. Gerak Brown menunjukkan kebenaran teori kinetik molekul yang menyatakan bahwa molekul-molekul dalam zat cair selalu bergerak cepat. Gerak Brown terjadi akibat tumbukan yang tidak seimbang dari molekul-molekul medium terhadap partikel koloid. Semakin tinggi suhu, semakin cepat gerak berlangsung karena energi kinetik molekul medium meningkat sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih kuat. Gerak inilah yang menyebabkan patikel-partikel koloid tidak mengendap karena dapat mengatasi gaya gravitasi.


  • Elektroforesis

Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik dan mempunyai muatan. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik disebut elektroforesis. Bila partikel koloid menyerap ion pada permukaannya, maka partikel koloid akan bermuatan listrik.

Partikel koloid bermuatan positif bila mengadsorpsi kation, misalnya Al(OH)3, Fe(OH)3, protein dalam asam, dan sebagainya. Sebaliknya, partikel koloid akan bermuatan negatif bila mengadsorpsi anion, misalnya As2S3, belerang, sol logam, kanji, dan sebagainya.

Jika sepasang elektroda yang dialiri arus listrik dicelupkan ke dalam dispersi koloid, maka partikel koloid bermuatan positif akan bergerak menuju katoda dan partikel kolid bermuatan negatif akan bergerak menuju anoda.

Elektroforesis bermanfaat untuk menentukan muatan suatu partikel koloid dan dapat diterapkan untuk mengurangi zat-zat pencemar udara yang dikeluarkan dari cerobong asap pabrik.


  • Adsorpsi

Partikel koloid mempunyai kemampuan untuk menyerap molekul atau ion pada permukaannya sehingga memiliki muatan listrik yang disebut adsorpsi. Sol Fe(OH)3 dalam air mengadsorpsi ion positif hingga bermuatan positif, sedangakan sol As2S3 dalam air mengadsorpsi ion negatif sehingga bermuatan negatif.


  • Koagulasi

Koagulasi adalah peristiwa penggumpalan partikel-partikel koloid karena adanya suatu elektrolit dengan muatan yang berlawanan. Apabila muatan koloid dilucuti maka kestabilan akan berkurang dan menyebabkan penggumpalan. Pelucutan muatan koloid terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lama ke dalam sel elektroforesis maka partikel akan digumpalkan ketika mencapai elektroda. Makin besar muatan ion makin kuat daya tariknya dengan partikel koloid sehingga makin cepat terjadi koagulasi.

Baca Juga :  Pengertian Koloid

  • Koloid Pelindung

Pada beberapa proses ketika suatu koloid harus digumpalkan, ada koloid yang perlu dijaga agar tidak menggumpal. Sistem koloid dapat distabilkan dengan penambahan suatu koloid lain yang disebut koloid pelindung (koloid protektif). Koloid pelindung ini akan membungkus partikel terdispersi sehingga tidak dapat lagi berkelompok dan menggumpal.


  • Dialisis

Pada permukaan suatu koloid, seringkali terdapat ion-ion yang dapat mengganggu kestabilan koloid tersebut. Ion-ion pengganggu ini dihilangkan dengan suatu proses yang disebut dialisis. Dalam proses ini, sistem koloid dimasukkan ke dalam suatu kantung koloid, lalu kantung koloid itu dimasukkan ke dalam bejana berisi air mengalir. Kantong koloid terbuat dari selaput semipermeabel, yang dapat melewatkan pertikel-partikel kecil, seperti ion-ion atau molekul sederhana, tetapi menahan partikel besar seperti koloid. Dengan demikian, ion-ion keluar dari kantong dan hanyut bersama air. Misalnya proses cuci darah.


  • Koloid Liofob dan Koloid Liofil

Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil jika terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar antar zat terdispersi dengan mediumnya. Partikel-partikel koloid dapat mengadsorpsi cairan sehingga terbentuk selubung cairan disekeliling partikel koloid. Jika cairannya berupa air maka istilahnya adalah hidrofil. Koloid hidrofil mempunyai gugus ionik atau gugus polar di permukaannya sehingga mempunyai interaksi yang baik dengan air.


Cara Pembuatan Koloid

Ukuran partikel koloid terletak antara partikel larutan sejati dan partikel suspensi. Oleh karena itu, sistem koloid dapat dibuat dengan pengelompokkan (agregasi) partikel larutan sejati atau menghaluskan bahan dalam bentuk kasar kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersi. Cara yang pertama disebut cara kondensasi, sedangkan yang kedua disebut cara dispersi.


  • Cara Kondensasi

Dengan cara kondensasi partikel larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan pergantian pelarut.


  • Hidrolisis

Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.

Contoh:

  • Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3. Apabila ke dalam air mendidih ditambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk sol Fe(OH)3.

  • Dekomposisi Rangkap

Contoh:

  • Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan H2S.

  • Penggantian Pelarut

Contoh:

  • Larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol akan terbentuk suatu koloid berupa gel.
Baca Juga :  Episentrum

  • Cara Busur Bredig

Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektroda yang dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu atom-atom tersebut mengalami kondensasi sehingga membentuk partikel koloid. Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara kondensasi dan cara dispersi.


Manfaat dan Kegunaan Koloid dalam Kehidupan

Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.

Berikut adalah aplikasi koloid :


Jenis industri

Contoh aplikasi

  • Industri makanan
  • Keju, mentega, susu, saus salad
  • Industri kosmetika dan perawatan tubuh
  • Krim, pasta gigi, sabun
  • Industri cat
  • Cat
  • Industri kebutuhan rumah tangga
  • Sabun, deterjen
  • Industri pertanian
  • Peptisida dan insektisida
  • Industri farmasi
  • Minyak ikan, pensilin untuk suntikan

  • Manfaat Koloid

  • Berikut adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid :

  1. Pemutihan Gula

Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.


  1. Penggumpalan Darah

Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.


  1. Penjernihan Air

Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui reaksi:


demikianlah artikel dari dunia.pendidikan.co.id mengenai Sifat Koloid : Pembuatan, Macam, Ciri, Kegunaan, Manfaat, Sifat, Contoh, Jenis, Pengertian,  semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya.